Bahagia itu
apa?
Bahagia adalah hati kita merasa senang,
bahagia adalah hati kita merasa damai, bahagia adalah hati kita merasa gembira,
dan lain-lain silahkan uraikan pendapat kita tentang bahagia yang saya kira
takkan jauh dari definisi bahagia versi saya,,,
Kalau kita berpikir bahwa bahagia adalah
memiliki semua materi yang kita inginkan, maka saya kira hal itu salah besar.
Agaknya kata-kata itu sudah sering ku dengar, ratusan kali atau bahkan ribuan
kali, tapi entahlah aku tak mampu untuk menghitungnya. Tapi entah kenapa setiap
kali mendengar kata-kata tersebut, aku pasti sering tak percaya, mana mungkin
menjadi miskin dapat bahagia? mana mungkin menjadi kaya belum tentu bahagia? Karena
hal yang sering aku bayangkan adalah bagaimana caranya kita dapat menjadi orang
kaya, yang dapat membeli apapun yang kita inginkan, setelah mendapatkannya aku
akan bahagia.
Pemikiranku yang demikian ternyata salah,
ketika aku melihat sebuah peristiwa beberapa hari yang lalu, tepatnya hari hari
selasa, 2 Desember 2014. Waktu itu aku pulang kuliah agak telat daripada
biasanya karena ada beberapa tugas yang harus aku print out di kampus.
Kira-kira jam 1 siang aku baru selesai nge-print semuanya. Setelah itu
aku pulang bersama sahabatku tersayang.
Tepatnya di depan sebuah kampus ekonomi di Pekalongan,
saya melihat pemandangan yang luar biasa membuatku malu. Di sana ada seorang
ayah yang menaiki sepeda ontel yang bisa dibilang sudah tak layak lagi untuk
dipakai. Warna sepeda itu tak jelas, karena tertutupi oleh karat sehingga tampak
berwarna coklat kemerahan. Ternyata ayah tersebut tak sendirian, ia
memboncengkan anak perempuannya yang kira-kira berumur 5 tahun di depan sepeda
ontelnya itu. Sembari mengayuh sepeda, sang ayah terlihat seperti
menjawabpertanyaan anaknya yang bertanya-tanya, “Pak, itu apa? Pak kalo yang
itu apa?” Sang ayah tersenyum melihat anaknya yang lucu, sambil sesekali
mencium pipi anak perempuannya itu. Terlihat mata sang anak terpana melihat
suasana kota yang penuh dengan gedung-gedung berlantai banyak, suasana jalan
yang penuh dengan mobil dan motor yang menjadikan jalan macet. Kebetulan waktu
itu ada kereta api yang lewat jadi kita semua yang kebetulan lewat harus
berhenti terlebih dahulu.
Seorang ayah dan anaknya tadi berada di
belakangku. Aku mencoba mengatur posisi kaca spion motorku agar aku dapat
melihat mereka berdua. Mereka sedang bercanda, sambil sesembari tersenyum. Aku
melihat kebahagiaan dalam mata mereka berdua, kegembiraan yang belum tentu kita
miliki walaupun kita bergelimang materi.
Melihat peristiwa demikian, saya sadar. Jika
sang ayah dan anak perempuannya yang tadi naik sepeda ontel saja dapat bahagia,
lalu aku dan anda yang punya rumah, punya motor, dapat kuliah, makan enak
setiap hari, dan sehat pula, masihkah tak bahagia? tak bersyukur? Sungguh
betapa malu dan menyedihkannya diri kita yang hina ini.
Nah, untuk dapat bersyukur, caranya gampang
kok. Kita hanya perlu melihat orang-orang yang nasibnya tak seberuntung kita.
Tak perlu lah kita melihat orang-orang kaya yang lebih beruntung dari kita
karena hal itu malahan akan membuat kita sulit untuk menerima takdir.
Pikirkan apa yang sudah kita miliki sekarang,
syukuri apa yang kita miliki sekarang, dan ucapkanlah alhamdulillah ‘ala
ni’matillah...
Sekian. Semoga bermanfaat.
Salam
Pekalongan,
5 Desember 2014
Umroh
Mahfudhoh