Kamis, 03 September 2015

Bahagia itu APA ???

Bahagia itu apa?
Bahagia adalah hati kita merasa senang, bahagia adalah hati kita merasa damai, bahagia adalah hati kita merasa gembira, dan lain-lain silahkan uraikan pendapat kita tentang bahagia yang saya kira takkan jauh dari definisi bahagia versi saya,,,
Kalau kita berpikir bahwa bahagia adalah memiliki semua materi yang kita inginkan, maka saya kira hal itu salah besar. Agaknya kata-kata itu sudah sering ku dengar, ratusan kali atau bahkan ribuan kali, tapi entahlah aku tak mampu untuk menghitungnya. Tapi entah kenapa setiap kali mendengar kata-kata tersebut, aku pasti sering tak percaya, mana mungkin menjadi miskin dapat bahagia? mana mungkin menjadi kaya belum tentu bahagia? Karena hal yang sering aku bayangkan adalah bagaimana caranya kita dapat menjadi orang kaya, yang dapat membeli apapun yang kita inginkan, setelah mendapatkannya aku akan bahagia.
Pemikiranku yang demikian ternyata salah, ketika aku melihat sebuah peristiwa beberapa hari yang lalu, tepatnya hari hari selasa, 2 Desember 2014. Waktu itu aku pulang kuliah agak telat daripada biasanya karena ada beberapa tugas yang harus aku print out di kampus. Kira-kira jam 1 siang aku baru selesai nge-print semuanya. Setelah itu aku pulang bersama sahabatku tersayang.
Tepatnya di depan sebuah kampus ekonomi di Pekalongan, saya melihat pemandangan yang luar biasa membuatku malu. Di sana ada seorang ayah yang menaiki sepeda ontel yang bisa dibilang sudah tak layak lagi untuk dipakai. Warna sepeda itu tak jelas, karena tertutupi oleh karat sehingga tampak berwarna coklat kemerahan. Ternyata ayah tersebut tak sendirian, ia memboncengkan anak perempuannya yang kira-kira berumur 5 tahun di depan sepeda ontelnya itu. Sembari mengayuh sepeda, sang ayah terlihat seperti menjawabpertanyaan anaknya yang bertanya-tanya, “Pak, itu apa? Pak kalo yang itu apa?” Sang ayah tersenyum melihat anaknya yang lucu, sambil sesekali mencium pipi anak perempuannya itu. Terlihat mata sang anak terpana melihat suasana kota yang penuh dengan gedung-gedung berlantai banyak, suasana jalan yang penuh dengan mobil dan motor yang menjadikan jalan macet. Kebetulan waktu itu ada kereta api yang lewat jadi kita semua yang kebetulan lewat harus berhenti terlebih dahulu.
Seorang ayah dan anaknya tadi berada di belakangku. Aku mencoba mengatur posisi kaca spion motorku agar aku dapat melihat mereka berdua. Mereka sedang bercanda, sambil sesembari tersenyum. Aku melihat kebahagiaan dalam mata mereka berdua, kegembiraan yang belum tentu kita miliki walaupun kita bergelimang materi.
Melihat peristiwa demikian, saya sadar. Jika sang ayah dan anak perempuannya yang tadi naik sepeda ontel saja dapat bahagia, lalu aku dan anda yang punya rumah, punya motor, dapat kuliah, makan enak setiap hari, dan sehat pula, masihkah tak bahagia? tak bersyukur? Sungguh betapa malu dan menyedihkannya diri kita yang hina ini.
Nah, untuk dapat bersyukur, caranya gampang kok. Kita hanya perlu melihat orang-orang yang nasibnya tak seberuntung kita. Tak perlu lah kita melihat orang-orang kaya yang lebih beruntung dari kita karena hal itu malahan akan membuat kita sulit untuk menerima takdir.
Pikirkan apa yang sudah kita miliki sekarang, syukuri apa yang kita miliki sekarang, dan ucapkanlah alhamdulillah ‘ala ni’matillah...
Sekian. Semoga bermanfaat.

Salam
Pekalongan, 5 Desember 2014

Umroh Mahfudhoh

Rabu, 27 Agustus 2014

Dikotomi Ilmu Pengetahuan di Indonesia



Dikotomi ilmu pengetahuan di Indonesia muncul pada masa pra kemerdekaan atau pada masa penjajahan Belanda. Pada masa itu, Belanda melarang pendidikan agama Islam. Menurut mereka, dalam ajaran Islam itu terkandung ajaran jihad. Jika pendidikan Islam itu diterapkan maka yang mereka takutkan adalah masyarakat Indonesia berani melawan Belanda dengan niat untuk jihad di jalan Allah. Selain itu, mereka beralasan bahwa dalam pendidikan itu-termasuk pendidikan Islam-terdapat proses pencerdasan. Sehingga mereka takut masyarakat Indonesia menjadi pintar yang kemudian akan membuat masyarakat menemukan taktik untuk mengalahkan Belanda. Hal inilah yang pada akhirnya memunculkan pemisahan antara ilmu pengetahuan umum dengan ilmu pengetahuan agama atau  yang sering disebut dengan dikotomi ilmu pengetahuan.
Tujuan pendidikan yang paling utama adalah bagaimana kita bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan pengetahuan yang telah kita dapatkan termasuk pendidikan umum maupun pendidikan agama. Tetapi, pada kenyataannya kita juga membutuhkan keterampilan bekerja untuk bertahan hidup. Inilah yang sering yang menjadi pertanyaan. Apakah kita dalam belajar itu boleh berniat untuk mencari pekerjaan atau bagaimana? Jawabannya adalah tidak boleh. Karena apa? Karena terdapat peran Allah di sini.
Logikanya kalau kita berbicara tentang pekerjaan, maka akan selalu terkait dengan rezeki di mana rezeki adalah salah satu hal yang telah dijamin oleh Allah selain hidup, mati dan jodoh. Oleh karena itu, tidak sepantasnyalah kita mencari ilmu dengan niat untuk mencari pekerjaan. Allah itu maha memberi, yakinlah bahwa Ia telah mengatur rezeki yang akan kita terima. Carilah ilmu dengan niat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Insya Allah kalau kita telah dekat dengan Allah, tak perlu kita mengkhawatirkan tentang kehidupan kita, Allah pasti akan memberikan rezeki pada kita karena Allah itu “ar-Rohman” yang artinya maha pengasih pada semua makhluk-Nya di dunia. Jika semut yang tubuhnya kecil saja selalu diberi rezeki oleh Allah, apalagi kita yang merupakan seorang manusia. Renungkanlah baik-baik kawan...
Pekalongan, 7 Juni 2014

Umroh Mahfudhoh