Rabu, 27 Agustus 2014

Dikotomi Ilmu Pengetahuan di Indonesia



Dikotomi ilmu pengetahuan di Indonesia muncul pada masa pra kemerdekaan atau pada masa penjajahan Belanda. Pada masa itu, Belanda melarang pendidikan agama Islam. Menurut mereka, dalam ajaran Islam itu terkandung ajaran jihad. Jika pendidikan Islam itu diterapkan maka yang mereka takutkan adalah masyarakat Indonesia berani melawan Belanda dengan niat untuk jihad di jalan Allah. Selain itu, mereka beralasan bahwa dalam pendidikan itu-termasuk pendidikan Islam-terdapat proses pencerdasan. Sehingga mereka takut masyarakat Indonesia menjadi pintar yang kemudian akan membuat masyarakat menemukan taktik untuk mengalahkan Belanda. Hal inilah yang pada akhirnya memunculkan pemisahan antara ilmu pengetahuan umum dengan ilmu pengetahuan agama atau  yang sering disebut dengan dikotomi ilmu pengetahuan.
Tujuan pendidikan yang paling utama adalah bagaimana kita bisa mendekatkan diri kepada Allah dengan pengetahuan yang telah kita dapatkan termasuk pendidikan umum maupun pendidikan agama. Tetapi, pada kenyataannya kita juga membutuhkan keterampilan bekerja untuk bertahan hidup. Inilah yang sering yang menjadi pertanyaan. Apakah kita dalam belajar itu boleh berniat untuk mencari pekerjaan atau bagaimana? Jawabannya adalah tidak boleh. Karena apa? Karena terdapat peran Allah di sini.
Logikanya kalau kita berbicara tentang pekerjaan, maka akan selalu terkait dengan rezeki di mana rezeki adalah salah satu hal yang telah dijamin oleh Allah selain hidup, mati dan jodoh. Oleh karena itu, tidak sepantasnyalah kita mencari ilmu dengan niat untuk mencari pekerjaan. Allah itu maha memberi, yakinlah bahwa Ia telah mengatur rezeki yang akan kita terima. Carilah ilmu dengan niat untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah. Insya Allah kalau kita telah dekat dengan Allah, tak perlu kita mengkhawatirkan tentang kehidupan kita, Allah pasti akan memberikan rezeki pada kita karena Allah itu “ar-Rohman” yang artinya maha pengasih pada semua makhluk-Nya di dunia. Jika semut yang tubuhnya kecil saja selalu diberi rezeki oleh Allah, apalagi kita yang merupakan seorang manusia. Renungkanlah baik-baik kawan...
Pekalongan, 7 Juni 2014

Umroh Mahfudhoh

Tidak ada komentar:

Posting Komentar